Cara Kreatif Royal Golden Eagle Dalam Memanfaatkan Limbah

Source: Asian Agri

Dalam proses produksi sebuah perusahaan seringkali ada limbah yang dihasilkan. Biasanya sisa buangan itu menjadi problem jika tidak ditangani dengan baik. Namun, di dalam tubuh Royal Golden Eagle (RGE), limbah tidak berubah jadi masalah. Grup yang dulu bernama Raja Garuda Mas ini selalu punya cara kreatif dalam pengolahannya.

Perlu diketahui, Royal Golden Eagle merupakan korporasi skala internasional yang didirikan oleh pengusaha Sukanto Tanoto. Awalnya grup yang berdiri pada 1973 ini dinamai Raja Garuda Mas. Namun, seiring waktu mereka bertransformasi menjadi Royal Golden Eagle. Perubahan itu dirasa diperlukan seiring misi RGE untuk bersaing di kancah dunia.

Bisnis utama Royal Golden Eagle terkait dengan sumber daya alam. Mereka kini menerjuni beragam industri mulai dari kayu lapis, pulp and paper, kelapa sawit, selulosa spesial, viscose staple fibre, hingga pengembangan energi.

Seperti perusahaan lain, ada limbah yang dihasilkan dalam proses produksi di dalam Royal Golden Eagle. Namun, yang membedakan dengan yang lain, RGE konsisten untuk menyiasati supaya limbah tidak tersia-sia sehingga merugikan kelestarian alam.

Hal ini sejalan dengan prinsip kerja di dalam Royal Golden Eagle. Mereka bertekad untuk tidak sekadar mencari profit, namun juga memberi manfaat kepada pihak lain. Secara khusus, RGE ingin perusahaannya ikut aktif dalam menjaga keseimbangan iklim. Untuk merealisasikannya, langkah aktif dalam melindungi alam harus dilakukan.

Atas dasar ini, pengolahan limbah produksi sangat penting. Sebisa mungkin sisa buangan dimanfaatkan menjadi hal yang berguna supaya tidak mencemari lingkungan. Ada sejumlah langkah kreatif yang dilakukan oleh grup yang dulu bernama Raja Garuda Mas tersebut. Apa saja itu? Berikut ini beberapa di antaranya.

PUPUK KOMPOS DARI KELAPA SAWIT

Source: Intisari

Royal Golden Eagle memiliki anak perusahaan yang berkecimpung dalam industri kelapa sawit, Asian Agri. Mereka dikenal sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Hal itu tidak mengherankan karena Asian Agri memiliki kapasitas produksi menjadi satu juta ton per tahun.

Asian Agri melakukan segala proses dalam pengolahan kelapa sawit. Mereka menanam, merawat, hingga mengolahnya menjadi crude palm oil (CPO). Sehari-hari, unit bisnis di Royal Golden Eagle ini mengelola 160 ribu hektare lahan perkebunan. Dari jumlah itu, 60 ribu di antaranya dijalankan bersama dengan petani kecil dalam skema petani plasma.

Ketika memproduksi CPO, buah kelapa sawit menjadi bahan baku utama. Sejumlah buah yang ada di dalam tandan kelapa sawit diambil dan diolah sedemikian rupa. Namun, proses tersebut menyisakan limbah berupa tandan kosong. Tidak tanggung-tanggung, dari satu buah tandan kelapa sawit segar, sebanyak 20 hingga 25 persennya merupakan tandan kosong.

Bisa dibayangkan betapa banyak tandan kosong yang terbuang jika melihat kapasitas produksi Asian Agri. Namun, anak usaha Royal Golden Eagle mampu secara kreatif menyiasati limbah supaya menjadi hal bermanfaat.

Mereka ternyata sanggup menyulap tandan kosong menjadi pupuk kompos. Hasilnya bisa dimanfaatkan lagi sebagai pupuk alami untuk perkebunan Royal Golden Eagle. Selain aman untuk lingkungan, pupuknya juga ekonomis dalam mengurangi biaya produksi.

Untuk memprosesnya, tandan kosong kelapa sawit dicacah dengan menggunakan mesin. Lalu, hasil cacahan ditaruh di area perkebunan kelapa sawit untuk proses pengomposan.

Dalam proses tersebut, limbah CPO lain juga dimanfaatkan. Cairan sisa produksi disiramkan ke bahan kompos untuk mempercepat proses pembuatan. Setelah didiamkan antara 1,5 hingga tiga bulan, pupuk kompos sudah jadi.

‘’Pencemaran lingkungan adalah dampak dari sistem pertanian intensif akibat penggunaan bahan kimia dalam produksi. Oleh sebab itu, kami mempergunakan pupuk alami dari janjangan dan solid (nama salah satu jenis limbah kelapa sawit padat, Red.) untuk mendapatkan hasil produksi pertanian dan perkebunan yang ramah lingkungan,” kata Manajer PT Inti Sawit Subur Asian Agri, di Kabupaten Pelalawan, Faisal, kepada Riau Pos.

Faisal menuturkan pihaknya berusaha keras untuk menerapkan prinsip kerja yang menjaga keseimbangan iklim yang menjadi keharusan di dalam Royal Golden Eagle. Ini membuat mereka berupaya keras untuk memanfaatkan segala jenis limbah supaya tidak mencemari lingkungan dan bisa dimanfaatkan.

‘’Karena memiliki unsur urea dan vitamin penyubur tanah, kami tidak ingin limbah sawit menjadi penyebab terhadap kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, pengolahannya mesti dilakukan dengan baik,’’ ungkap Faisal.

LISTRIK DARI LIMBAH CAIR KELAPA SAWIT

Source: Tribunnews

Proses produksi kelapa sawit ternyata cukup kompleks. Mereka menghasilkan salah satu jenis limbah cair yang dikenal dengan nama Palm Oil Mill Effluent. Jumlahnya pun cukup banyak sehingga mesti disiasati dengan baik supaya tidak merusak lingkungan.

Bayangkan saja, setiap ton dari tandan buah kelapa sawit segar yang sudah diolah akan menghasilkan 50% kandungan limbah cair kelapa sawit. Sementara itu, untuk tandan yang sudah kosong akan ada limbah sebanyak 23% limbah cair. Jika ditotal, setiap satu ton CPO bisa menghasilkan limbah cair hingga 5 ton.

Fakta ini mendasari anak perusahaan Royal Golden Eagle, Asian Agri, memutar otak untuk mencari solusi terbaik. Mereka tidak mau membiarkan limbah terbuang sia-sia. Salah-salah sisa buangan produksi kelapa sawit itu bisa mencemari lingkungan. Maka, Asian Agri memanfaatkannya menjadi biomass.

Lini bisnis Royal Golden Eagle ini sangat serius dalam melakukan pemanfaatan limbah cair kelapa sawit. Memanfaatkan teknologi dari Jepang, mereka berhasil memanfaatkannya menjadi sumber energi listrik.

Ini membuat Royal Golden Eagle mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Bio Gas (PLTBG) dengan memanfaatkan limbah cair kelapa sawit. Hingga 2020, mereka bertekad membangun 20 buah PLTBG. Hingga Januari 2016 sudah ada lima PLTBG yang berdiri dan tersebar di Sumatera Utara, Riau, dan Jambi.

Dalam satu PLTBG akan menghasilkan listrik 2 megawatt. Untuk operasional perusahaan Royal Golden Eagle hanya dibutuhkan 700 kilowatt. Alhasil, ada sisa 1,3 megawatt yang rencananya hendak disalurkan ke masyarakat. RGE berencana menjalin kerja sama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) dalam pelaksanaan.

“Pabrik Biogas yang didirikan Asian Agri merupakan bentuk tanggung jawab kami terhadap kelestarian lingkungan. Tidak hanya sekadar menjalankan bisnis perusahaan, kami berusaha agar limbah dari pengolahan sawit dapat menjadi sebuah hal yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan juga masyarakat,” ujar Direktur Asian Agri, Freddy Widjaya.

MEDIA TANAM DARI SABUT KELAPA

Source: Riau Andalan Pulp and Paper Blogspot

Bidang usaha yang digeluti Royal Golden Eagle mencakup industri pulp and paper. Lini usaha RGE yang bergerak di sana adalah PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Mereka menanam pohon, merawatnya, hingga mengolah kayunya menjadi bubur kertas.

Dalam pelaksanaan, RAPP ternyata memanfaatkan limbah sabut kelapa sawit. Mereka menjadikannya sebagai media tanam pohon akasia yang menjadi bahan baku. Caranya ialah dengan memadukannya dengan limbah lain, yakni sekam dari biji padi.

Untuk membuatnya, kulit biji padi diproses dengan menyanggrainya untuk menjadi arang sekam. Sementara itu, sabut kelapa sawit digiling di dalam mesin penggilingan menjadi bubuk kering yang dinamai sebagai cocopeat.

Dibanding tanah, sabut kelapa sawit dan arang sekam dinilai lebih efektif sebagai media tanam. Sebab, bibit pohon akasia lebih cepat besar di sana. Selain itu, bibitnya juga lebih tahan terhadap penyakit, hama, maupun cuaca kalau ditanam di arang sekam maupun sabut kelapa sawit.

Terbukti nyata Royal Golden Eagle bisa kreatif dalam memanfaatkan berbagai jenis limbah. Demi keseimbangan alam, limbah dimanfaatkan sedemikian rupa supaya berguna dan tidak mencemari alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *