Kisah Sukses Sukanto Tanoto Mirip Dengan Pebisnis Besar Dunia

Sukanto Tanoto (Image Source: RGEI
http://www.rgei.com/about/our-leadership/sukanto-tanoto)

Siapa saja pasti ingin mengikuti jejak Sukanto Tanoto. Sebagai pengusaha, ia mampu mengembangkan Royal Golden Eagle (RGE) sedemikian pesat. Kisah hidupnya ternyata senada dengan sejumlah pebisnis papan atas dunia.

Saat ini Sukanto Tanoto memegang kendali RGE sebagai chairman. Sekarang RGE yang didirikannya merupakan korporasi yang bergerak dalam pemanfaatan sumber daya berkelas internasional. Mereka ditaksir memiliki aset senilai 18 miliar dolar Amerika Serikat dengan karyawan sekitar 60 ribu orang.

Dalam mengembangkan RGE, perjuangan keras dan kejelian diperlihatkan Sukanto Tanoto. Namun, ternyata kisah keberhasilannya itu mirip dengan beberapa pebisnis terkenal dunia seperti Bill Gates, Amancio Ortega, Jeff Bezos. Terdapat beberapa hal yang sama di antara mereka.

Apa sajakah itu? Berikut ini contoh kesamaan kisah hidup Sukanto Tanoto dengan para pengusaha papan atas.

Semangat Belajar yang Tinggi Seperti Bill Gates

Bill Gates (Image Source: Hausatelevision.com
https://hausatelevision.com/wp-content/uploads/2017/08/Bill-Gates-VR-Education.jpg)

Nama Bill Gates sangat mendunia. Per Oktober 2017, Forbes menempatkannya sebagai orang terkaya di dunia. Aset Gates diperkirakan mencapai 86 miliar dolar Amerika Serikat.

Sumber kekayaan terbesar Gates berasal dari Microsoft. Raksasa software itu kini mendominasi pasar di dunia. Sebagian besar sistem operasi komputer di muka bumi ini menggunakan Windows yang merupakan produknya.

Data dari Netmarketshare bisa dikedepankan. Per Oktober 2017, mereka menyebutkan sistem operasi yang paling banyak dipakai saat ini adalah Windows 7. Jumlahnya mencapai 47,21 persen.

Persis di bawahnya masih produk Microsoft lain. Ada Windows 10 yang mengambil pangsa 29,09 persen. Sisanya masih ada versi lain dari Windows serta sistem operasi lain seperti iOS dan Linux. Namun, semuanya tidak ada yang mencapai 6 persen dari market share.
Salah satu kunci sukses Gates dalam mendirikan Microsoft ialah basis pengetahuan pemograman yang kuat. Ia telah memilikinya sejak usia muda.

Pada usia 13 tahun, Gates sudah sangat menggemari coding dan segala sesuatu tentang bahasa pemrograman. Namun, ia hanya mendapat kesempatan yang minim untuk berlatih dengan menggunakan komputer secara langsung karena batasan yang diberikan oleh sekolahnya.

Suatu ketika, ada seorang siswa baru yang masuk di sekolah Gates. Ayahnya bekerja di Computer Centre Corporation (CCC) yang tengah mengalami masalah keuangan berat karena hacker. Gates dan rekan-rekannya diberi kesempatan untuk memperbaiki problem di CCC dengan imbalan boleh menggunakan komputer sepuasnya

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Gates. Dia memanfaatkannya untuk mempelajari komputer semakin mendalam. Hal itu akhirnya berguna untuk mengembangkan kemampuannya merancang Microsoft.

Sepintas kisah itu senada dengan kisah hidup Sukanto Tanoto yang dikenal sangat haus pembelajaran. Pria kelahiran Belawan ini akan selalu berusaha mempelajari apa pun dan di mana pun.

Padahal, Sukanto Tanoto sempat putus sekolah pada usia muda. Tapi itu tidak mematikan semangat belajarnya yang tinggi. Ia selalu berusaha belajar secara otodidak. Salah satu contohnya adalah belajar bahasa Inggris hanya dengan modal kamus Tiongkok-Inggris yang dimilikinya.

Dalam dunia bisnis pun Sukanto Tanoto juga selalu berusaha belajar. Dia melakukannya dengan cara praktik langsung ke dalam pengelolaan usaha sejak usia muda. Hal itu membuatnya memperoleh pengalaman dan pelajaran bisnis yang penting. Tak heran, industri yang digeluti oleh Sukanto Tanoto juga bervariasi.

“Kita harus selalu lapar untuk belajar. Bapak Sukanto Tanoto mengatakan bahwa hari saat kamu berhenti belajar adalah hari kejatuhanmu,” kata putra Sukanto Tanoto, Anderson Tanoto.

Piawai Mengendus Peluang Layaknya Jeff Bezos

Jeff Bezos (Image Source: Fortune.com
https://fortunedotcom.files.wordpress.com/2016/03/bez04_ehigher-res-horizontal.jpg)

Soal kepiawaian mengendus peluang, pemimpin Amazon, Jeff Bezos, sukar dicari tandingannya. Ia mampu melihat kesempatan bisnis yang besar ketika belum ada pihak lain yang menyadarinya.

Bezos merintis Amazon menjadi perusahaan retail dalam jaringan terbesar di dunia. Ia melakukannya saat tidak ada pihak yang serius menganggap internet akan menghadirkan peluang bisnis besar.

Sebelumnya Bezos sempat bekerja di beberapa perusahaan berbeda di Wall Street seperti Fitel dan Banker Trust. Dia juga sempat mengambil pekerjaan di sebuah perusahaan internet D.E Shaw & Co.

Dari sana Bezos melihat peluang besar dari internet yang membuatnya berani meninggalkan pekerjaan dengan bayaran bagus yang dimilikinya untuk mendirikan Amazon.

Awalnya Amazon yang didirikan di garasi rumahnya itu hanya menjual buku. Namun, seiring perkembangan waktu, skala dan varian produk yang dijualnya semakin bertambah besar.

Berkat Amazon pula Bezos kini ditempatkan oleh Forbes sebagai orang terkaya ketiga di dunia. Kekayaannya per Oktober 2017 ditaksir mencapai 72,8 miliar dolar Amerika Serikat.

Kejelian mengendus peluang seperti Bezos itu juga dimiliki oleh Sukanto Tanoto. Lihat saja, beberapa industri berbasis sumber daya alam di Indonesia dirintis olehnya.

Kayu lapis misalnya. Sukanto Tanoto sudah memulainya karena merasa gusar dengan kondisi di Indonesia. Negeri kita kaya pohon, tetapi malah mengimpor kayu lapis dari Singapura. Hal ini dirasanya konyol sehingga Sukanto Tanoto mendirikan pabrik kayu lapis.

Dalam mengembangkan industri kelapa sawit hampir sama. Ia terinspirasi melihat perkebunan di Malaysia. Setelah menghitung, Sukanto Tanoto yakin bisnis tersebut akan meledak di Indonesia. Hal itu pun akhirnya terbukti.

Saat merintis pabrik pulp dan kertas sama saja. Ia mampu melihat potensi alam Indonesia untuk perkebunan sangat besar. Akibatnya ia segera membuatnya ketika orang lain belum menjalankannya. Hasilnya bisa dilihat sendiri. RGE menjadi korporasi besar.

Berani Memulai Sejak Muda Mirip Amancio Ortega

Amancio Ortega (Image Source: Signalmpg.com
http://www.signalng.com/wp-content/uploads/amancio_ortega.jpg)

Keberanian membuka bisnis sejak muda kerap berbuah manis. Kesuksesan datang menghampiri. Inilah yang dibuktikan sendiri oleh Amancio Ortega.

Pria asal Spanyol itu adalah pemilik grup perusahaan fashion, Inditex, Perusahaan itu lebih dikenal dengan merek seperti Zara, Massimo Duti, Pull & Bear, dan Bershka.

Kisah sukses Ortega tidak lepas dari perjuangan hidup yang keras. Pada umur 14 tahun, ia putus sekolah karena pindah dari tempat kelahirannya, Leon, untuk mengikuti ayahnya pindah kerja ke La Coruna. Tak lama kemudian, Ortega mendapat pekerjaan di sebuah toko baju yang membuatnya memiliki kecakapan untuk membuat pakaian.

Pada akhirnya, pria kelahiran 28 Maret 1936 ini mulai mendirikan usaha sendiri. Pada 1972, ia mengawalinya dengan Confecciones Goa yang menjual mantel mandi. Tiga tahun berselang, Ortega akhirnya memulai Zara yang membuat kekayaannya melesat.

Sekarang Ortega disebut oleh Forbes sebagai orang terkaya keempat di dunia. Kekayaannya mencapai 71,3 miliar dolar Amerika Serikat.

Jejak langkah Ortega mirip dengan Sukanto Tanoto. Pada usia 18 tahun, ia sudah mengelola usaha keluarga karena sang ayah sakit. Sebelumnya Sukanto Tanoto juga putus sekolah akibat sekolahnya ditutup.

Namun, memulai usaha dalam usia muda membuat Sukanto Tanoto memiliki pengalaman bisnis yang panjang. Hal itu menjadi modal penting baginya dalam menjalankan perusahaannya.

Hasilnya bisa dilihat. RGE berkembang pesat menjadi korporasi kelas internasional.

Itulah sejumlah kesamaan antara Sukanto Tanoto dengan para pebisnis ternama di dunia. Anda bisa meniru dan mengambil inspirasi dari kisah mereka semua.

Profil Sukanto Tanoto: http://www.profilpedia.com/2016/12/biografi-sukanto-tanoto-pengusaha.html

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *