Api membesar karena minyak di wajan terlalu panas? Jangan panik! Ini cara mengatasinya…

Beberapa hari ini, saya malas masak. Bukan hal yang aneh sih sebenarnya. Karena biasanya juga Warung Nasi Kameumeut milik Ma Iyah dan Sate Terminal Sagalaherang yang jadi andalan haha.

Nah, Minggu pagi kemarin saya kembali didera virus malas masak. Tapi anak-anak harus tetap makan. Sarapan mah gampil aja sih. Tinggal dibikinin nasi goreng anak-anak udah pasti bahagia. Padahal bisa jadi sebenarnya mereka juga tersiksa dikasih nasi goreng terus hampir tiap hari ya ahaha…

Tanggung turun ke dapur, saya lihat isi kulkas. Aduh, Gusti… lupa kalau masih ada pempek kiriman seorang teman dari Palembang beberapa hari yang lalu. Alhamdulillah… 

Setelah anak-anak selesai sarapan nasi goreng, saya meneruskan aktivitas di dapur dengan menggoreng pempek. Tadinya sih mau sekalian goreng cireng yang baru dibeli kemarin sore, tapi… nanti malah jadi mubazir. Cirengnya buat besok saja. Saya pun memasukkan kembali cireng ke dalam kulkas.

Entah doyan atau memang kelaparan, meski masing-masing sudah menghabiskan satu piring nasi goreng, pempek Palembang kiriman teman ini tetap diserbu juga.

Ya, syukurlah… minimal di jam 11 ini perut anak-anak sudah aman. Tinggal memikirkan makan siang dan malam. Itu pun masih aman, kan ada Ma Iyah dan Sate Terminal hihi

Saya menyimpan piring sekalian ambil minum di dapur. Anak-anak juga menyimpan piring bekasnya di tempat cuci piring.

Kemudian saya baru ingat kalau sepatu Ceuceu sudah kekecilan. Awal tahun ajaran kemarin memang gak beli baru sih. Maklum, tahun ajaran kali ini kembali berbarengan dengan lebaran. Pusing tuh ngatur keuangannya haha…

(Baca: Keperluan Lebaran VS Keperluan Sekolah)

Selain itu, sepatu Ceuceu yang lama masih bagus dan pas masuk sekolah masih cukup. Tapi meski masih bagus, nyatanya baru 2 bulan sekolah di SMP… kaki Ceuceu sudah bertambah beberapa cm. Mau gak mau jadinya harus beli sepatu baru.

Selepas Dzuhur, saya pun mengajak anak-anak ikut ke pasar. Tanggung ke pasar, sekalian saja beli tempe, tahu, dan telur… buat besok kalau bikin nasi goreng lagi hehe.

Pulang dari pasar sekitar jam 2. Segera saya ke dapur untuk menyimpan telur dan teman-temannya. Belum sampai ke dapur, saya melihat api yang menyala-nyala di atas wajan.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun… kebakaran!

Koq bisa? Perasaan sebelum keluar rumah, bahkan ketika menyimpan piring bekas pempek tadi tidak ada kompor yang menyala.

Pelajaran moral pertama, saat sedang di dapur jangan pakai perasaan apalagi sambil melamun kemana-mana. Tetap fokus. Jangan merasa bisa multitasking. Karena sekali meninggalkan dapur, apalagi terus buka medsos… dijamin, lupa segalanya haha.

Sebelum meninggalkan dapur, mau itu hanya sebentar (misal menjawab telepon atau membuka pintu karena ada yang tiba-tiba ketuk-ketuk pintu) apalagi perlu waktu yang lama, pastikan benar-benar kompor tidak dalam keadaan menyala.

Tapi saya gak boleh panik. Sambil menyimpan telur dan teman-temannya ke dalam kulkas, segala colokan listrik di dapur saya cabut. Colokan kulkas, magic com, dispenser, termasuk mesin cuci di kamar mandi dekat dapur. Lampu yang masih menyala saya matikan. Semua pintu dibuka. Anak-anak saya suruh keluar. Kemudian saya menuju kompor untuk mematikan aliran gas.

Api di wajan masih tetap menyala, malah cenderung membesar.

Saya pun mencoba mengingat materi pelatihan pemadaman kebakaran yang pernah saya dapatkan ketika mengantar Ceuceu study tour ke PMK Kota Bandung jaman TK dulu.

Seingat saya, saat itu instruktur memeragakan pemadaman dengan karung goni yang dibasahi. Saya juga masih ingat pesan instruktur, kalau wajan yang terbakar api tidak boleh disiram dengan air.

Kenapa?

Karena di dalam wajan masih ada minyak. Dan kita tahu kalau massa jenis air lebih tinggi dibanding minyak. Artinya jika air dan minyak berada di dalam satu tempat, air akan selalu ada di bawah minyak.

Ingatlah apa kata pepatah, kalau air dan minyak tak akan pernah bisa bersatu *apa sih

Begitu juga ketika minyak yang terbakar diberi air. Air otomatis akan turun ke bawah minyak, tapi seketika itu juga air langsung berubah menjadi uap karena panas yang tinggi.  Saat minyak yang terbakar tadi diberi air, air tadi akan langsung turun ke bawah minyak, tapi seketika itu juga air akan langsung berubah menjadi uap karena panas yang tinggi.

Koq bisa?

Ayo ingat-ingat lagi. Berapa titik didih air? Yap… 100 derajat celcius. Sementara titik didih minyak kelapa sawit (yang biasa dipakai di dapur) sekitar 175 derajat celcius. Beberapa minyak lain ada yang sampai 266 derajat celcius. Jadi dibanding minyak sawit, yang lebih cepat mendidih adalah air.

Ketika air berubah menjadi uap, uap ini akan mengembang memenuhi ruang kemudian mendorong minyak dan api tadi hingga menghasilkan bola api yang besar. Istilahnya steam explosion (ledakan uap air). Dalam skala kecil saja, ketika minyak panas terkena percikan air, maka minyak panas di wajan yang akan menciprat ke luar.

Balik lagi ke bagaimana nih caranya agar api di wajan cepat padam?

Sambil mengingat-ngingat pesan instruktur, saya mikir keras… Di rumah gak punya karung goni. Ada sih handuk… tapi aduh, lebar euy. Masih bagus. Hadiah pula. Apalagi selimut, lebih sayang lagi. Jarang-jarang beli selimut.

Akhirnya saya malah mengambil lap pel dan lap tangan yang tipis-tipis untuk dibasahi kemudian saya tutupkan ke atas wajan. Ya jelas lah api bukannya mengecil, tapi semakin membesar dan menghanguskan lap di atas wajan. Padahal api dari kompor sudah dimatikan dan minyak pun hampir habis terbakar.

Pesan moral kedua, dalam keadaan darurat seperti ini jangan memikirkan hilangnya benda yang sebenarnya gak seberapa jika dibandingkan kerugian yang mungkin dialami jika musibah dibiarkan.

Wajan dengan api yang semakin besar karena ada lap tangan yang tertinggal pun saya dorong agar jatuh ke lantai. Maksudnya agar menjauh dari kompor dan meja makan di samping kompor yang beralaskan plastik. Kemudian wajan ini ditendang keluar pintu dan nyasar ke halaman tetangga.

Untungnya sih di halaman tetangga ini gak ada siapa-siapa. Coba kalau tetangganya lagi nangkring. Siapa yang gak kaget dilempar wajan berapi? Haha…

Barang bukti hehe

Jadi apa yang harus dilakukan untuk memadamkan wajan yang berapi? 

Catat nih ya… ingat-ingat dan kalau sampai kejadian (mudah-mudahan sih gak sampai kejadian), dipraktekan.

1. Jangan panik. Segera matikan kompor.

2. Ambil kain yang cukup tebal dan lebar, kemudian basahi dengan air. Ingat, kainnya diperas dulu. Jangan sampai ada air yang menetes. Ingat teori Steam Explosion!

3. Tutup seluruh bagian atas wajan/panci dengan kain tadi. Bagian ini perlu nyali yang tinggi. Karena mau tidak mau tangan dan badan kita mendekat dengan api. Tutupkan dari arah yang paling dekat dengan badan ke depan sampai wajan benar-benar tertutup.

4. Tunggu sebentar sampai dirasa wajan/panci sudah mulai mendingin, dan buka kainnya.

Cara di atas dinilai efektif karena memutus salah satu sumber api, yaitu oksigen. Pori-pori kain yang dibasahi tertutup oleh air sehingga tidak ada celah sama sekali serta menyerap udara panas.

Dari beberapa pengalaman orang lain, selain kain basah, api juga bisa dipadamkan dengan menggunakan pasir yang banyak. Nah… ini. Padahal di halaman tetangga kemarin tuh ada pasir. Sayang, saya gak ingat karena malah galau sama handuk hadiah haha.

Untuk mengantisipasi hal yang sama kembali terulang, setelah kejadian, sorenya suami kemudian membeli APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dan dipasang tepat di pintu dapur.

Yang harus diperhatikan saat membeli APAR adalah bahan yang dipakainya. Secara umum ada 5 jenis fire extinguisher yang dibedakan berdasarkan bahannya, yaitu: Air bertekanan, KarbondioksidaDry Chemical PowderFoam, dan Gas Halon non-CFC. Bagaimana cara membedakannya?

Dikutip dari sebuah HT di Kaskus, air tidak bisa digunakan pada api yang terdapat pada minyak atau flammable liquid seperti bensin.

Karbondioksida tidak dapat digunakan pada api yang terdapat pada magnesium/flammable metal.

Foam tidak dapat digunakan pada api yang bersumber dari gas/elpiji (karena akan tersembur) dan peralatan listrik (karena bersifat konduktif dapat menimbulkan korsleting arus atau membahayakan pengguna).

Dry Chemical Powder ada yang bersifat korosif jadi harus hati-hati pada penggunaan dekat elektronik/benda logam.

Karbondioksida pun harus hati-hati dalam penggunaannya karena dia menyembur kencang, namum aman bagi peralatan elektronik.

Gas Halon non-CFC dapat digunakan untuk segala jenis kebakaran namun efektif hanya untuk di dalam ruangan.

Nah, jadi APAR jenis manakah yang kemarin dibeli suami? Mengingat kejadian kemarin ini sumber apinya minyak (di kasus saya, gas bukan sumber api dan juga sudah dimatikan), jadi suami membeli APAR yang berbahan dasar Foam seperti ini.

Mudah-mudahan sih gak sampai dipakai ya. Cukup lah jadi pajangan dan gak kejadian lagi nyaris kebakaran seperti kemarin.

Selesai urusan dapur, saya pun segera merapikan tali sepatu Ceuceu yang baru. Kali ini yakin, gak ada kompor yang masih menyala.

Hari ini Ceuceu sudah pakai sepatu baru, tapi pulang dari sekolah malah membawa kabar kurang menyenangkan. Label nama yang dibuatkan oleh sekolah malah salah katanya. Padahal Ceuceu bilang sengaja membuat label dengan nama yang singkat, Lavinna S.A.S… ini yang tercetak malah Lavinna S.I.S.

Label nama yang salah, Lavinna S.I.S hiks

Aduh, Pak. Sudah susah-susah cari nama bayi perempuan selama berbulan-bulan plus bonus tapa 7 hari setelah bayinya lahir… namanya malah salah huhuhu…

13 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *