PILGUB DKI : Jawara tak perlu jumawa, kalah tak usah marah

Apa kabar suasana timeline hari ini? Coba lihat, sudah adem belum? Kalau kemarin timeline dipenuhi dengan nyinyir-nyinyiran Pilgub DKI Jakarta putaran 2 Sindonews, sekarang timeline saya tetap ramai. Iya, masih penuh status nyinyir. Padahal Pilgubnya sudah selesai.

Masih ingat donk apa yang paling hangat dibicarakan di Debat Pilkada DKI Jakarta kemarin? Yup. Rumah dengan DP 0%. Banyak netizen yang kemudian mempertanyakan janji Anies-Sandi jika terpilih jadi Gubernur, yaitu bakal ada rumah dengan DP 0% dengan kisaran harga 350 juta di Jakarta.

Hmmmm… tenang bro, sis. Jangan pesimis dulu. Bukannya saya membela Anies-Sandi. KTP saya Bandung koq, sementara sekarang ini juga saya masih tinggal di daerah pegunungan di Subang. Jadi gak ada urusannya sama Pilkada DKI. Tapi kalau mau cari di situs-situs properti, ada koq rumah di Jakarta yang harganya di bawah 350 juta. Di Bandung juga banyak yang harganya di bawah 350 juta. Hanya saja masih perlu DP minimal 30%… dan buat mengumpulkan 30%-nya itu yang ngos-ngosan. Makanya saya pindah ke Subang. Di Subang mah 100 juta udah dapat sawah 400m cyiiiinnnn… Ada yang mau jadi tetangga saya gak? Hihi

Percaya gak percaya sih sebenernya ada rumah murah di Jakarta. Kebanyakan nonton iklannya Mbak Fenny Rose di televisi soalnya. Mbak Fenny kan sering muncul di iklan properti yang harga DP-nya bisa 2-3x lipat harga rumah yang dijanjikan Anies-Sandi. Ngeriiiii…

Tapi sebenarnya rumah murah di Jakarta itu memang masih ada. Coba deh browsing situs-situs properti. Lokasinya juga gak terlalu mewah alias mepet sawah. Eh, di Jakarta mah udah gak ada sawah ya? Haha

Dan sekarang ketika Anies-Sandi menang menurut hasil perhitungan cepat, yang pertama kali dinyinyirin ya tentang program rumah DP 0% ini.

Sampai-sampai teman saya juga membuat status kalau ternyata saling nyinyir itu masih saja berlangsung. Sepertinya sih memang hobi ya. Kalau paslon yang didukungnya menang, nyinyir ke paslon yang kalah. Sebaliknya, ketika paslon yang didukungnya kalah, nyinyir ke paslon yang menang. Mau kalah atau menang, hobinya ya tetap nyinyir. Huffft…. energinya luar biasa tuh.

Hayooo.. sudah berapa teman yang di-unfollow, di-unfriend, dan diblokir gara-gara Pilgub DKI ini? Belum lagi sebentar lagi juga Pilpres. 2 tahun lagi itu sebentar lho. Haduh-haduh… timeline panas bakal gak selesai-selesai nih.

Kalau ada yang bilang orang-orang seperti ini mirip anak kecil, sepertinya itu salah besar. Karena anak kecil mah kalau lagi ikut kompetisi, gak pernah tuh sampai nyinyir-nyinyiran. Begitu juga dengan pendukungnya. Kalaupun ternyata kalah, kecewa sih pasti, tapi jarang tuh ada yang marah-marah. Apalagi sampai musuhan sama yang menang. Semua bisa berbesar hati.

Coba deh perhatikan. Jangankan ikut kompetisi, ketika sedang bertikai dengan temannya pun, anak-anak tidak pernah bermusuhan terlalu lama. Contohnya saja teman-teman Ceuceu.

Seringkali saya perhatikan, teman-teman Ceuceu ini berselisih paham. Masalahnya sepele sih. Biasanya karena rebutan gebetan haha… Gak jarang mereka sampai saling memaki di media sosial. Akibatnya sudah bisa diduga, mereka bermusuhan. Tapi itu pun gak lama. Paling lama seminggu kemudian mereka sudah jalan-jalan bareng lagi. Lucu kan?

Sekarang orang dewasa, musuhan gara-gara rebutan gebetan, eh… gubernur? Masih mending kalau memang yang ribut-ribut ini memang penduduk DKI. Lah… yang Pilgubnya di DKI, ributnya seIndonesia. Aduh… sedih banget sih.

Nah, kalau anak-anak saja bisa berbesar hati, kenapa kita yang katanya sudah dewasa tidak bisa?

 

 

 


Leave a Reply